Gwangju. Korea Selatan, 1980. Di tengah kecamuk demonstrasi mahasiswa yang dihadapi dengan kekerasan dan peluru tajam oleh penguasa, seorang pemuda mencari jenazah kawannya. Kisah berkelindan dengan beragam cerita lain yang menyentuh hati dan diracik dengan amat menarik oleh seorang pengarang jempolan. Karya baru Han Kang yang dikenal melalui Vegetarian - novel laris pemenang Man Booker International Prize - Ini adalah kisah tak terlupakan tentang kemanusiaan, persahabatan, dan cinta kasih.
No posts yet
Kick off the convo with a theory, question, musing, or update
Your rating:
Bingung mau mulainya dari mana karena selepas baca buku ini aku dibuat speechless. Kayak ada satu hal yang hilang, tapi gak tau apa. Rasanya super-duper hampa, buat pengin nangis karena terlalu sesak.
Kisah yang berdasarkan sejarah memang terkadang berujung tidak menyenangkan, tapi di sisi lain sangat berkesan, seperti buku ini buat aku.
Dari awal baca, aku suka banget sama buku ini. Pertama, karena buku ini pakai sudut pandang kedua. Lalu, yang kedua, buku ini bukan hanya menceritakan dari satu tokoh, melainkan menceritakan bagaimana tokoh-tokoh lain melihat kejadian di Gwangju pada masa itu. Rasa kehilangan, kelelahan, keinginan untuk mendapatkan haknya sampai dengan keputus asaan serta penyesalan jadi tergambar secara beragam.
Ini bukan sekadar perang, tapi ini penindasan. Penindasan yang dialami oleh mereka yang seharusnya medapat perlindungan. Jahat? Memang, dan gak bisa dipungkiri, hal tersebut nyata adanya. Mungkin jugua sampai dengan saat ini.
Han Kang-nim sukses berat buat aku merasakan perasaan yang campur aduk sekaligus naksir sama karyanya yang satu ini. Apalagi hal unik dari buku ini adalah sudut pandang arwah yang juga menjadi salah satu suguhan di buku ini.
Sangat, sangat, sangat aku rekomendasikan untuk dibaca. Solid 5⭐ for this book.