Your rating:
Funiculi Funicula, sebuah kafe di gang sempit di Tokyo, masih kerap didatangi orang-orang yang ingin menjelajahi waktu. Peraturan-peraturan yang merepotkan masih berlaku, tetapi itu semua tidak menyurutkan harapan mereka untuk memutar waktu. Kali ini ada seorang pria yang ingin kembali ke masa lalu untuk menemui sahabat yang putrinya ia besarkan, seorang putra putus asa yang tidak menghadiri pemakaman ibunya, seorang pria sekarat yang ingin melompat ke dua tahun kemudian untuk memastikan kekasihnya bahagia, dan seorang detektif yang ingin memberi istrinya hadiah ulang tahun untuk pertama sekaligus terakhir kalinya. Kenyataan memang akan tetap sama. Namun dalam singkatnya durasi sampai kopi mendingin, mungkin masih tersisa waktu bagi mereka untuk menghapus penyesalan, membebaskan diri dari rasa bersalah, atau mungkin melihat terwujudnya harapan…
No posts yet
Kick off the convo with a theory, question, musing, or update
Your rating:
Buku ini lebih banyak bikin aku merenung dan bengong soalnya kok bisa bikin sebuah kisah yang sangat heartwarming sekaligus patah hati di saat yang bersamaan?
Dari mulai cerita pertama aku udah dibuat beberapa kali hampir nangis, tapi yang lucunya dari buku kedua ini adalah kehadiran Miki yang jadi moodbooster. Setiap kali ada yang sedih-sedih, Miki selalu muncul dengan kelucuan dan kegemasan tingkahnya.
Apalagi waktu dia menyebut dirinya sendiri dengan kata ganti daku dan waktu Nagare nyuruh Miki buat menuangkan kopi untuk kali pertama, “Akhirnya! My debut tiba, yeah?” Benar-benar menggemaskan!!!
Walaupun ada Miki yang menjadi moodbooster di sepanjang buku, aku tetap nangis waktu baca kisah ke dua. Pertahananku roboh maksimal karena selain topiknya yang membahasa orangtua, kisah dan kesulitan Yukio juga bikin aku ngerasa kayak ... berat banget. Walaupun, ya memang kita nggak bisa membandingkan kesulitan orang. Karena mereka pasti punya kesulitan dengan kadarnya masing-masing.
Selain itu, dibandingkan dengan buku pertama, buku kedua ini juga sama-sama punya empat kisah, tapi sepertinya buku ini juga lebih fokus dengan kisahnya Kazu yang nggak kalah bikin sedih. Peluk erat buat Kazu!
Buku ini kayak ngajarin kita bahwa, sepahit dan sepedih apapun kenyataan yang kita alami, kita semua sangat berhak buat bahagia. And I do believe that.
Jangan lupa untuk bahagia!