transparan dan akuntabel. Kalian pengecut, hanya bisa mengambinghitamkan tukang bangunan. Mengarang cerita bebas, dan orang-orang percaya...."
Jaksa itu tetap diam.
"Siapa Kaisar itu, heh?"
Jaksa itu menatapku, menggeleng.
"Siapa Kaisar yang merekrutmu sejak menjadi staf kejaksaan di luar kota? Menugaskanmu untuk mengurus izin ilegal alih fungsi lahan, heh? Dengan menyuap kepala daerah, pejabat setempat. Hutan itu kalian habisi, kayu-kayunya kalian jual mahal. Lantas kalian ganti dengan perkebunan kelapa sawit. Atau tambang batu bara luas.
"Siapa Kaisar yang memberimu perintah, heh! Aku melihat tumpukan dokumen di lantai dua dan lantai
Di awal-awal seri aksi Tere Liye ini, bahasa yang dipakai itu masih bagus, apalagi di novel pertama di seri ini (Negeri Para Bedebah). Tapi makin kesini, bahasa yang dipakai itu jadi terkesan 'malas'. Contohnya adalah penggunaan kata "heh" di novel ini. Yang aku quote diatas itu adalah contoh dari salah satu page yang ada di novel ini. Dalam satu page saja sudah ada 3 kata "heh". Lagian apa sih maksud penggunaan kata heh ini? Untun menunjukkan kalau dia berteriak? Kan bisa pakai tanda seru. Jadi aneh sekali saat dibaca jika ada kata yang overused seperti ini.
WeirdWitch commented...
This is my first time reading a novel with a classic writing style. It's like a breath of fresh air from the modern style writing.